Ulee Lheu: ini fotonnya pake camera b'Acin |
Senyum. Barangkali itu adalah hal pertama
yang akan kau lakukan. Benar. Senyum. Aku sedang tidak ingin menerka banyak
hal. Tapi pada akhirnya harus ku yakini bahwa ketika kau mulai membaca tulisan ini,
yang pertama kau lakukan adalah tersenyum. Setidaknya senyum yang bisa
membuatku berpikir lebih keras hal apa saja harus aku tulis pada paragraf
selanjutnya. Senyum yang membuatku harus sabar dan detil sekali memilih kata
yang benar. Meski kadang terlihat konyol dan percuma saja memilih banyak hal
sedang tetap saja aku harus meyakini bahwa tak ada pilihan yang tepat dari kata
apapun untuk menjelaskan senyummu saat ini. Indah? Cantik? Maka diamlah
sejenak. Dan. Tetap tersenyum. Ya. Seperti itu. Kau tampak manis sekali.
Kita akan mengingat beberapa hal dulu. Sebelum
akhirnya semua orang akan mengetahui apa yang sedang kita pikirkan. Kau tentu
sudah paham benar soal kegelisahan. Tapi ternyata tak ada yang perlu kita ubah
untuk menikmati jalannya waktu. Karena semakin banyak kita menuntut, semakin
banyak pula hal-hal indah terbuang percuma oleh keangkuhan kita. Maka
nikmatilah perjalanan ini. Kisah yang beberapa tahun lalu sudah kita mulai.
Kita tidak sedang tiba-tiba berada di sebuah
perjalanan. Tapi di atas kapal laut dan waktu saat itu adalah malam; sempurna
dan sungguh menyenangkan. Aku tahu, bagimu, itulah pertama kali kau melewati
sesuatu yang luar biasa. Tapi apakah kau pernah berpikir kalau itu pun bagiku
adalah keajaiban? Maka kini akan aku selesaikan beberapa hal yang mungkin akan
sedikit membosankan untuk kau simak. Tentu aku harap tidak. Tidak perlu juga
terlalu serius sampai-sampai menyeduhkan teh atau kopi segala. Nikmati saja. Ini akan lebih enak dari
secangkir cokelat panas kesukaanmu.
Aku tidak ingin meyakini banyak hal. Selain
bisa membuatku tersesat dalam sejarah yang sedang kita bangun. Bisa saja kau
memutuskan dan menganggap aku sedikit lebih egois dari biasanya. Aku hanya akan bercerita saja.
Meski setiap detik yang kita sudah terlewatkan masih membekas benar, setidaknya
kini aku bisa memberimu sebuah bingkai yang manis agar kita sama-sama bisa
menikmati kembali malam penuh bintang itu.
Kapal sudah bergerak meninggalkan pelabuhan. Menuju
pulau seberang.
Pelabuhan adalah tempat di mana aku pertama
kali, secara diam-diam, memperhatikanmu dari balik kacamata hitam yang aku
kenakan. Aku juga harus berpura-pura tak tahu lokasi penjualan tiket. Tapi tanpa
kau sadari sama sekali, akhirnya, aku bisa menggantikanmu mengantri di loket,
tepat di depan jendela petugas penjual tiket kapal penyeberangan aku bisa jelas
melihat wajahmu; senyummu. Entah bagiamana cara aku melakukannya, jangan
tanyakan hal yang juga tak bisa aku jawab ini.
Kita mulai menghabiskan banyak waktu untuk
berbagi cerita. Aku dan beberapa temanku juga tamanmu sedang minum di warung
dekat tempat parkir. Sekali lagi kita semakin banyak bercerita. Tapi tidak
tentang kau dan aku. Kita berbicara entah apa alasannya dan apa yang kita
bicarakan juga tidak terlalu penting. Yang kita ingat, langit hari itu sangat cerah.
Orang-orang sedang mengantri sama seperti kita. Menunggu jadwal keberangkatan. Menunggu.
Di meja kita, ada beberapa botol minuman
dingin. Tapi lebih banyak senyummu yang secara sengaja sangat ku nikmati. Aku
ingat betul cara kau tertawa sambil melempar pandang. Sesekali juga, entah
sengaja atau tidak, aku menikmati bentuk wajahmu, matamu. Meski hanya lewat kacamata
hitam yang susah sekali aku lepaskan. Alasanya? Agar kau tak menangkap mataku.
Aku tidak ingat benar apa yang menjadi bahan
candaanmu saat aku tiba-tiba harus pamit sebentar karena harus berjumpa dengan
keluarga yang lokasinya tak jauh dari palabuhan. Kita sudah menghabiskan banyak
waktu sampai akhirnya azan magrib dan menyelesaikan tugas pribadi
masing-masing.
Tapi, sejenak aku alihkan dulu, jangan
berhenti tersenyum saat membaca ini. Aku takut akan banyak yang salah bila saja
kau tiba-tiba ingin berpikir hal lain. Sengaja atau tidak, jangan berhenti
tersenyum ya.
Malam semakin indah untuk kita nikmati. Jika
memilih menghabiskan waktu duduk di dalam kapal akan terasa sangat bosan.
Itulah mengapa atap paling atas kapal kemudian mereka disain sebagai tempat
orang-orang seperti kita bisa melihat hamparan bintang yang seolah tersangkut
pada layar hitam. Tak ada bulan malam itu. Hanya terang lampu kota yang secara
cepat juga akan padam saat kita berada jauh di tengah laut seperti ini.
Kau pasti sedang berpikir saat yang indah itu
bukan? Nah! Aku juga tak akan melewatkan hal yang sama. Perlu aku cerita
bagaimana cara aku menunjuk ke arah kota yang kita tinggalkan itu? Ah! Tentu
saja kau terdiam dan hanya bisa melihat puluhan, tidak, bahkan lebih ratusan
warna kembang api silih berganti menghadiahkan ketenangan bagimu. Warna-warna
yang secara sengaja meniru bintang dan ingin mengubah langit kota menjadi sedikit
romantis.
Akhirnya aku mendapatkanmu begitu damai dalam
kembang api yang suara letupannya tak lagi terdengar. Sejatinya sedang kita
nikmati laut tenang dan keindahan malam dari pancaran kembang apai yang konon
katamu begitu penting sehingga melahirkan sebuah kedamain yang luar biasa. Malam
lebaran semakin indah bagi ini semua.
Aku diam bukan karena sedang menikmati aroma
asinnya air laut. Bukan juga karena tidak ingin terlalu terbuka soal seperti
apa sebenarnya diriku. Semilir angin malam ini menyuruhku mendengar setiap bait
kata yang keluar dari mulutmu. Tak terlintas apapun dalam benakku selain
berusaha untuk mengunci kehidupanku rapat-rapat. Sederhananya, agar kau tidak
tahu betapa buruknya waktu yang pernah aku lewati sebelum malam ini.
Kita punya alasan berbeda kenapa bisa
tiba-tiba berada di atas kapal ini. Hal yang juga sama-sama kita tidak ingin
membongkarnya terlalu awal. Bahkan sampai aku juga tidak ingin bertukar nomor hanphone denganmu. Sebab aku juga punya
alasan yang sangat kuat. Aku tidak berpikir banyak soal itu. Sekalipun kau kemudian
memutuskan bahwa aku sangat tertutup terhadap apapun. Bukan hendak membuat ini
menjadi samar. Tapi aku sangat menikmati perjalanan ini.
Lebaran
tahun ini telah kita lewatkan dengan sesuatu yang sangat luar biasa. Masih
seperti “mimpi” yang pernah aku ceritakan padamu. Oh, tidak tepatnya yang
pernah kau ceritakan padaku. Maka aku akan terus membuat ini sedikit lebih
samar. Tapi tenang, bisa aku pastikan bahwa pada saat waktunya nanti ini semua
akan menjadi lebih terang. Karena telah aku simpan beberapa cerita untukmu. Benar.
Pada saatnya nanti akan ku sampaikan.
Tuhan telah menciptakan sejarah pertemuan
denganmu. Sejarah yang akhirnya bisa kita rawat agar yang menjadi impian setiap
manusia untuk bisa hidup lebih bahagia itu bisa kita wujudkan. Aku sedang jatuh
cinta? Tidak. Belum. Nanti akan aku bongkar padamu apa yang telah aku rasakan.
Dan rasa apa yang sedang aku pendam untuk hal ini. Saat-saat di atas kapal
seperti itu, kau terlihat begitu cantik hingga aku tidak segan berpikir bahwa
kau salah satu percikan bunga api yang dikirim dari jauh sana untuk aku simpan.
Hal yang tak mungkin dilakukan oleh orang biasa. []
0 comments:
Post a Comment